Skip to main content

* Maha Sempurna Cipta-Mu *

disini setiap manusia akan tertunduk...

melepas segala jabatan dunia...
tiada arti sebuah kekuatan harta ataupun tahta...
yang berarti adalah dimana kita bertahan dalam kekuatan jasad bernyawa, bathin juga Iman serta rasa taqwa kepada Sang Maha Pencipta...
maka bungkamlah hati dan jiwa dalam satu raga dan ruh yang dipenuhi kesombongan.
disini manusia melepas haru...
kecantikan dan ketampanan diri tak terpikirkan terasa saru...
mata yang tertegun kagum dengan sedikit senyum tersipu...
air mata yang menetes beserta keringat serta jantung yang kerap terpacu...
yang ada hanyalah nikmatnya alam ciptaan ALLAH Tuhanku.



yang membuat kita bersedih adalah ketika tubuh terasa berat sesekali nafas mendesah...
dengan beban berat dipunggung hingga kaki yang lelah melangkah...
bertahan didalam dingin bercampur dengan tubuh yang berselimut rengkut berkeringat gerah...
mata harus tertumpu pada jejak langkah dijalan setapak serta tangan yang mencengkeram terjalnya tebing yang tak mudah...
Ya, Rabb...
ijinkan hamba tuk berdiri lagi diatas Puncak Arcapada...
tuk singkirkan ego dan bercengkrama dengan alam cipta-Mu yang Sempurna...
bernafas di sejuknya udara tanpa polusi dengan wangi wangi pohon cemara...
menciumi harumnya bunga abadi bagai menciumi wangi tubuh bidadari Syurga-Mu...
wahai Pemilik Semesta...
wahai Pemilik jiwa-jiwa suci...
hanya pada-Mu hamba dan semua mahluk ciptaan-Mu bersujud dan memohon segala sesuatu terutama ampunan-Mu.
Aamiin

Comments

Popular posts from this blog

Sepeda Kukayuh

Sepeda itu kukayuh... Kesana kemari tak peduli waktu... Dari keadaan bening hingga sore tetap tak terlihat lusuh... Hanya debu yg menempel hiasi membekas bahwa sepeda itu satu harian kukayuh... Duduk sore hari dalam lelah kupandangi sepeda hadiah kenaikan kelas dari ayah dan Ibu... Dan mataharipun tersenyum senang melihat riang kalbuku... Tersenyumku menyentuh stang sepeda BMX yg terkenal pada saat itu... Lalu aku mendudukinya dan mengayuh kembali pedal sepeda dan berlalu dari tempat itu menuju rumahku... Mataharipun tersipu haru memandangku... Lalu ia tenggelam dan waktupun terus mengalir seperti air hingga kuambil picture sepeda kesayangan keponakanku... # masakecilituindah :)

Opini diArcapada

Ketika melangkah dijalan setapak menuju puncak gunung, coba renungkan beberapa ego yang ada dibenak kita, mungkin ada beberapa fikiran yang sangat mengganggu, entah hati yang berkata-kata," akan sampaikah kita diatas sana dengan selamat?"... coba renungkan ketika hati kita berbicara tentang yang ada difikiran kita,"ya,ampun... sang surya sebentar lagi tiba, kita masih ditanah berpasir Mahameru, menapak satu langkah terperosok tiga langkah... !" .. sangat menyedihkan,bahkan sanubari yang terdalampun akan membayangkan orang-orang yang kita cintai dibawah sana, air mata sudah tak terbendung, tangan sudah mencengkeram rumput yang menancap ke tanah tuk bertahan, kaki sudah tertumpu dipinggiran tebing yang dibawahnya jurang nan terjal... fikiran dan hati yang memang sejalan ketika semua ego terbuang saat kita benar-benar sendiri menghadapi kesulitan langkah yang dibawahnya jurang penuh batu terjal, diantara tangisan bermakna maka disaat itu pula keyakinan tuk bangki...

Dalam sebuah perjalanan di Gunung Papandayan Ba'da kelar SMA 1997' silam. :). mengenang Alm.Darwin

*Ext.Pagi Dinihari jam 02:30 Dinihari di Terminal Garut. kami berlima turun dari Bis yang mengantar kami dari terminal Kampung Rambutan dari sejak sore hingga sampai ke Terminal Garut pagi-pagi buta Pukul 02:30, aku Erick Maulana, my best friends Darwin (alm), Aphet Trujillo, Keke, dan sikampret Aco Macho, turun dengan wajah masih setengah sadar karena mengantuk. ketika didepan terminal seperti biasa kami mengecek alat-alat bawaan, Aco Macho tampak celingukan lalu memandang Keke. Aco Macho: " (memandang Keke) Ke, gitar udeh dibawa belum?" Keke: " Oh iye, Co, gw lupa beneran dehc!" Aco Macho: "(sambil nyengir cengengesan) si beg* :D , gitar pake acara ketinggalan diBis, (sambil berdiri memandang Bis yang baru diparkir) ayo, Ke... kita ambil ke bis! Erick Maulana: " (nyengir) tau luh, Ke... gitar abang gw tuh, gw minjem sama die ampe matanya melotot, tapi akhirnye dipinjemin juga tuh gitar, ambil cepetan, Ke, Co!" Aphet Tru...