Skip to main content

Posts

Gemuruh Cinta disisi Pandemik dan Pancaroba

Bismillah Assalamu'alaikum Warohmatulloh Langit yg biru...  Jalan yang sepi... Hanya beberapa orang yg masih mengais rejeki tuk bertahan demi segenggam beras dengan wajah haru...  Kutunggu beberapa jam hingga ku pandangi awan hitam kembali mulai menyelimuti langitpun mendung bersedih...  Sungguh hina manusia dengan segala perbuatan buruk yang tak sengaja ataupun sengaja dilakukannya...  Sungguh sedih ketika melihat tangan-tangan memberi dengan senyum di sorot kamera tuk berselfie-selfie...  Ironisnya kadang mereka seperti tak tahu bahwa mereka sedang dilanda keresahan hati mereka yang sebenarnya tahu bahwa riyyaa itu awal dari dosa-dosa lainnya...  Disudut lain kulihat wajah-wajah tertunduk sepi, sedih, kehilangan pekerjaan bagai palu yg menimpa kepala bertubi-tubi karena harus berfikir, bagaimana caranya untuk memenuhi nafkah untuk keluarganya sehari-hari...  Bagi manusia kaum yg berfikir, itu adalah sebuah awal yang baik untuk memulai ses...

kosong

Wahai Maha Pemilik Cinta... kuingin hanya inginkan cinta atas cinta-Mu... kau berikan dewi cinta yang hentikan nestapa disaat diri dirundung dilema... kau berikan cahaya surya hatiku yang padam dalam sinar dipanasnya kemarau hingga senja hampirku terbunuh akal secara perlahan lalu semua dukapun sirna...

*intuisiku tentang Cinta dan Kehidupan*

Seorang penyair berkata, " jika menangis maka tutuplah kedua mata dengan tanganmu!"... bagiku, tidak perlu menutup mata dengan kedua tangan, jika ingin menangis ya menangis saja, biarkan bening itu mengalir membasahi pipi dan terjatuh dilantai ataupun meresap kedalam tanah, biar isi bumi tau bahwa kita menangis, jika sudah lelah menangis maka hapuslah bekas bening yang mengalir dikedua pipi dengan jari-jemarimu yang tampak luruh lunglai karena melakukan sesuatu dalam keseharianmu... * ketika aku berfikir tentang cinta, berkali-kali aku membaca karya sastra puisi tentang kepakan sayap yang salah satu diantara keduanya itu tidak stabil karena hampir patah, aku berfikir dan berfikir, semua itu hanya kata-kata yang membosankan, kita buat mudah saja kata-katanya, cinta itu tak sekedar membalut luka diantara luka, cinta itu tak sekedar merasakan duka diantara duka, dan cinta itu bukan hanya menikmati suka diantara suka... ahk, lagi-lagi aku mendesah dan beranggapan bahwa kat...

*tetap kukayuh sampan tanpa layar*

sejenak kutepiskan risau... dimalam yang tak terlalu dingin... dalam temaram kukecup cahaya-cahaya redup yang mencoba menerangi hati... walau saat ini ketika bercermin membuat kurisih akan diri sendiri... aku bukanlah bintang... dan aku bukanlah bulan... bahkan jika dibandingkan matahari, diri dan jiwa serta hati ini tetap redup tak terang... namun dengan kesabaran walau hanya sedikit aku pun harus tetap menerjang ombak mengayuh tanpa layar  dengan sampan ... wahai cinta... dekaplah segala asaku agar terus bangkit dan bangkit... jangan biarkan diri ini tersesat dalam nyata... jangan biarkan diri ini jatuh dan jatuh hingga harus kurasa semua rasa sakit... dekaplah diri ini selalu dengan kasih sebagai karunia dari Sang Maha Pengasih... terlanjurku harus melewati lingkaran duri yang kerap melukaiku berkali-kali... tergores perih dan tetap berusaha menutupi luka yang menganga berulang-ulang... hinggaplah rasa terbiasa menelan kepahitan dalam kepahitan diri... dan...

# sunyi #

Didepan api unggun aku duduk merenung... entah menikmati alam dikaki pegunungan yang dingin atau menyesali sesuatu! dan hanya dingin saja yang kurasa saat itu... kemarahan... penyesalan... seakan buntu tersapu kabut yang menguasai pikiran... cinta membuatku resah... karena diri ini selalu melampaui batas ego diantara kedua sisi. iya.. bimbanglah yang menguasai diri...! bersandar pada angan tiada apapun yang nyata... mengadu pada malam hanya angin berdesir merasuk kedalam pori dan buatku semakin menggigil dingin... aku biarkan suara yang syahdu berputar disekeliling pikiranku... aku cinta, namun aku benci akan perasaan di diri ini... beberapa kali kucoba mengakhiri kisah yang awalnya ku ukir indah... berkali-kali jua mahluk yang berjasad berjiwa yang berhati kusakiti... suratan takdir yang semu... namun harus ku syukuri... karena dari semua kisah itu, akupun kan terus merasa sendiri... ataupun suatu saat nanti cinta sejati itu be...

Takdir Kupu-kupu

betapa besar kebahagiaan yang dapat menimpa mahluk... siapa yang menikmati kesenangan dengan kebebasan - dengan kebebasan... dan jadilah tuan dari semua karya alam... memerintah diudara dari bumi ke Syurga tertinggi... untuk memberi makan bunga dan gulma yang tampak mulia... dan mengambil apapun yang menyenangkan mata... Kupu-kupu diketinggian itu akan terus mengikuti dimanapun arah angin berhembus... Yang konstan hanyalah cinta sejatinya untuk alam dan Sang Kreator Sejati yg selalu menjamahnya penuh kasih sayang... Ketika malam tiba, maka tertidur lelap ia terbius oleh bunga mimpi indah didalam keindahan hidup nyatanya.

*jelita jingga*

" Wahai jalan yang terjal, sudikah kamu kuinjak dan kutiduri bagai bantal, jangan kau memaki aku hingga terjatuh dalam peristiwa yang fatal, bukankah aku ini tamumu wahai jalan setapak yang kuinjak dengan sendal... sentuhlah aku dengan kesejukan serta indahmu hingga rasa ikhlas ini tak batal..." " hai angin dingin, kau rasuki poriku hingga melupakan aku tuk ungkapkan kata cinta jadi tak ingin, apakah harus naif diri ini menyimpan segala rasa hingga waktupun tertawakan jiwa-jiwa yang berlalu tertiup angin..." sungguh aku berdiri disamping seorang jelita, wanita penuh pesona, keindahannya bagai merah jingga sunrise cipta-Mu yang merona. -September 1998