" Wahai jalan yang terjal, sudikah kamu kuinjak dan kutiduri bagai bantal, jangan kau memaki aku hingga terjatuh dalam peristiwa yang fatal, bukankah aku ini tamumu wahai jalan setapak yang kuinjak dengan sendal... sentuhlah aku dengan kesejukan serta indahmu hingga rasa ikhlas ini tak batal..."
" hai angin dingin, kau rasuki poriku hingga melupakan aku tuk ungkapkan kata cinta jadi tak ingin, apakah harus naif diri ini menyimpan segala rasa hingga waktupun tertawakan jiwa-jiwa yang berlalu tertiup angin..."
sungguh aku berdiri disamping seorang jelita, wanita penuh pesona, keindahannya bagai merah jingga sunrise cipta-Mu yang merona.
-September 1998
-September 1998

Comments
Post a Comment