Skip to main content

Gemuruh Cinta disisi Pandemik dan Pancaroba

Bismillah
Assalamu'alaikum Warohmatulloh

Langit yg biru... 
Jalan yang sepi...
Hanya beberapa orang yg masih mengais rejeki tuk bertahan demi segenggam beras dengan wajah haru... 

Kutunggu beberapa jam hingga ku pandangi awan hitam kembali mulai menyelimuti langitpun mendung bersedih... 

Sungguh hina manusia dengan segala perbuatan buruk yang tak sengaja ataupun sengaja dilakukannya... 
Sungguh sedih ketika melihat tangan-tangan memberi dengan senyum di sorot kamera tuk berselfie-selfie... 
Ironisnya kadang mereka seperti tak tahu bahwa mereka sedang dilanda keresahan hati mereka yang sebenarnya tahu bahwa riyyaa itu awal dari dosa-dosa lainnya... 

Disudut lain kulihat wajah-wajah tertunduk sepi, sedih, kehilangan pekerjaan bagai palu yg menimpa kepala bertubi-tubi karena harus berfikir, bagaimana caranya untuk memenuhi nafkah untuk keluarganya sehari-hari... 
Bagi manusia kaum yg berfikir, itu adalah sebuah awal yang baik untuk memulai sesuatu yang baik, karena berprasangka baik kepada Sang Maha Pencipta...
Bagi yg lemah imannya walau tiada yg halal haram pun jadi (nyata)...

Dalam sebuah kisah cinta, masa Pandemik adalah masa yg menentukan dimana coba dan coba akan menghampiri bertubi-tubi, disitulah fikiran dan nalar serta kesabaran yg ikhlas benar di uji... 
Dalam sebuah kisah cinta, bagai cuaca yang sedang pancaroba, seiring berganti musim, maka kadang juga berganti suasana yg indah, ataupun buruk, tergantung bagaimana mereka bisa menelan atau tidak pahit dan manisnya kehidupan... 

Bahkan kesendirian adalah sebuah pilihan... 
Mana yang lebih baik?... 
Itu hanya ada masing-masing dihati kalian, saya, dan kamu!... Dan tiada satupun yang tau kecuali "Dia" Yang Maha Membolak balikan hati manusia. 

Semoga Allah Subhanahu WA Ta'ala selalu memberikan kesehatan kepada kita semua dan menjaga Negeri yang damai ini dari kehancuran. Aamiin. 

Barakallohu sahabat. 

W assalamu'alaikum Warahmatullahi. 



Comments

Popular posts from this blog

Sepeda Kukayuh

Sepeda itu kukayuh... Kesana kemari tak peduli waktu... Dari keadaan bening hingga sore tetap tak terlihat lusuh... Hanya debu yg menempel hiasi membekas bahwa sepeda itu satu harian kukayuh... Duduk sore hari dalam lelah kupandangi sepeda hadiah kenaikan kelas dari ayah dan Ibu... Dan mataharipun tersenyum senang melihat riang kalbuku... Tersenyumku menyentuh stang sepeda BMX yg terkenal pada saat itu... Lalu aku mendudukinya dan mengayuh kembali pedal sepeda dan berlalu dari tempat itu menuju rumahku... Mataharipun tersipu haru memandangku... Lalu ia tenggelam dan waktupun terus mengalir seperti air hingga kuambil picture sepeda kesayangan keponakanku... # masakecilituindah :)

Opini diArcapada

Ketika melangkah dijalan setapak menuju puncak gunung, coba renungkan beberapa ego yang ada dibenak kita, mungkin ada beberapa fikiran yang sangat mengganggu, entah hati yang berkata-kata," akan sampaikah kita diatas sana dengan selamat?"... coba renungkan ketika hati kita berbicara tentang yang ada difikiran kita,"ya,ampun... sang surya sebentar lagi tiba, kita masih ditanah berpasir Mahameru, menapak satu langkah terperosok tiga langkah... !" .. sangat menyedihkan,bahkan sanubari yang terdalampun akan membayangkan orang-orang yang kita cintai dibawah sana, air mata sudah tak terbendung, tangan sudah mencengkeram rumput yang menancap ke tanah tuk bertahan, kaki sudah tertumpu dipinggiran tebing yang dibawahnya jurang nan terjal... fikiran dan hati yang memang sejalan ketika semua ego terbuang saat kita benar-benar sendiri menghadapi kesulitan langkah yang dibawahnya jurang penuh batu terjal, diantara tangisan bermakna maka disaat itu pula keyakinan tuk bangki...

Dalam sebuah perjalanan di Gunung Papandayan Ba'da kelar SMA 1997' silam. :). mengenang Alm.Darwin

*Ext.Pagi Dinihari jam 02:30 Dinihari di Terminal Garut. kami berlima turun dari Bis yang mengantar kami dari terminal Kampung Rambutan dari sejak sore hingga sampai ke Terminal Garut pagi-pagi buta Pukul 02:30, aku Erick Maulana, my best friends Darwin (alm), Aphet Trujillo, Keke, dan sikampret Aco Macho, turun dengan wajah masih setengah sadar karena mengantuk. ketika didepan terminal seperti biasa kami mengecek alat-alat bawaan, Aco Macho tampak celingukan lalu memandang Keke. Aco Macho: " (memandang Keke) Ke, gitar udeh dibawa belum?" Keke: " Oh iye, Co, gw lupa beneran dehc!" Aco Macho: "(sambil nyengir cengengesan) si beg* :D , gitar pake acara ketinggalan diBis, (sambil berdiri memandang Bis yang baru diparkir) ayo, Ke... kita ambil ke bis! Erick Maulana: " (nyengir) tau luh, Ke... gitar abang gw tuh, gw minjem sama die ampe matanya melotot, tapi akhirnye dipinjemin juga tuh gitar, ambil cepetan, Ke, Co!" Aphet Tru...