Skip to main content

* 21 Juli *❤️




seorang pria mengayuh dayung diatas perahu...

matanya memandang seorang wanita dengan wajah bak sungai yg jernih, namun dipenuhi kesedihan dan sakit hati...

Wajah seorang wanita yg bagai sinar rembulan, namun jiwa dan jasadnya terkekang oleh keraguan...
ketika wanita itu tersenyum, senyumnya bagai mentari terbit indah ditimur bersama awan tipis dilangit yg biru nan pekat...



kuselami senyumnya dan dia pun tersipu, terlihat pipinya yang memerah humairah...

wajah yang selalu hinggap tak lekang oleh usia...
terpaku kisahmu wahai wanita yang selalu tertulis dalam jari jemari yang mengetik disetiap abjad cerita...


kau bungkam angkara disebagian diriku yang menjegalmu...

tabahmu bak kemilau mutiara dilautan dalam yang sinarnya menembus air pekat...


diantara kabut hitam kau berdiri pada ujung dermaga memandang perahu yang kukayuh didanau yang hening...

sedang aku yang berada diperahu hanya bisa memandang remang sosok tubuhmu redup...
bening yang mengalir diantara sesalku menusukkan duri dihatimu...
maaf... maafkanlah...
dan bayangmu hilang tak membekas tertutup kabut hitam...


akhirnya lelaki itu terus mengayuh dayungnya hingga kabutpun menipis dan menghilang...

entah sampai kapan perahu itu berlabuh disebuah pulau yang memahaminya...
sesekali wajah lelaki itu berpaling kearah tempat awal dia mengenal sebuah cinta...
lalu lelaki itu menundukkan kepala dalam duka...


Berada dimana sang putri pujaan hati?...

Comments

Popular posts from this blog

Sepeda Kukayuh

Sepeda itu kukayuh... Kesana kemari tak peduli waktu... Dari keadaan bening hingga sore tetap tak terlihat lusuh... Hanya debu yg menempel hiasi membekas bahwa sepeda itu satu harian kukayuh... Duduk sore hari dalam lelah kupandangi sepeda hadiah kenaikan kelas dari ayah dan Ibu... Dan mataharipun tersenyum senang melihat riang kalbuku... Tersenyumku menyentuh stang sepeda BMX yg terkenal pada saat itu... Lalu aku mendudukinya dan mengayuh kembali pedal sepeda dan berlalu dari tempat itu menuju rumahku... Mataharipun tersipu haru memandangku... Lalu ia tenggelam dan waktupun terus mengalir seperti air hingga kuambil picture sepeda kesayangan keponakanku... # masakecilituindah :)

Opini diArcapada

Ketika melangkah dijalan setapak menuju puncak gunung, coba renungkan beberapa ego yang ada dibenak kita, mungkin ada beberapa fikiran yang sangat mengganggu, entah hati yang berkata-kata," akan sampaikah kita diatas sana dengan selamat?"... coba renungkan ketika hati kita berbicara tentang yang ada difikiran kita,"ya,ampun... sang surya sebentar lagi tiba, kita masih ditanah berpasir Mahameru, menapak satu langkah terperosok tiga langkah... !" .. sangat menyedihkan,bahkan sanubari yang terdalampun akan membayangkan orang-orang yang kita cintai dibawah sana, air mata sudah tak terbendung, tangan sudah mencengkeram rumput yang menancap ke tanah tuk bertahan, kaki sudah tertumpu dipinggiran tebing yang dibawahnya jurang nan terjal... fikiran dan hati yang memang sejalan ketika semua ego terbuang saat kita benar-benar sendiri menghadapi kesulitan langkah yang dibawahnya jurang penuh batu terjal, diantara tangisan bermakna maka disaat itu pula keyakinan tuk bangki...

Dalam sebuah perjalanan di Gunung Papandayan Ba'da kelar SMA 1997' silam. :). mengenang Alm.Darwin

*Ext.Pagi Dinihari jam 02:30 Dinihari di Terminal Garut. kami berlima turun dari Bis yang mengantar kami dari terminal Kampung Rambutan dari sejak sore hingga sampai ke Terminal Garut pagi-pagi buta Pukul 02:30, aku Erick Maulana, my best friends Darwin (alm), Aphet Trujillo, Keke, dan sikampret Aco Macho, turun dengan wajah masih setengah sadar karena mengantuk. ketika didepan terminal seperti biasa kami mengecek alat-alat bawaan, Aco Macho tampak celingukan lalu memandang Keke. Aco Macho: " (memandang Keke) Ke, gitar udeh dibawa belum?" Keke: " Oh iye, Co, gw lupa beneran dehc!" Aco Macho: "(sambil nyengir cengengesan) si beg* :D , gitar pake acara ketinggalan diBis, (sambil berdiri memandang Bis yang baru diparkir) ayo, Ke... kita ambil ke bis! Erick Maulana: " (nyengir) tau luh, Ke... gitar abang gw tuh, gw minjem sama die ampe matanya melotot, tapi akhirnye dipinjemin juga tuh gitar, ambil cepetan, Ke, Co!" Aphet Tru...