Menjelang senja, aku dengan sepeda motorku melaju dipinggir kali yang terdapat rentetan rumah-rumah kardus, sengaja laju motor kupelankan, sambil mataku liar sesekali memandang para wanita berambut basah yang hanya mengenakan handuk keluar dari rumah kardus tuk menjemur pakaiannya. kupandangi anak-anak kecil yang sedang asyik mandi dikali yang penuh polusi limbah-limbah pabrik, serta limbah hotel dan limbah mall. pada masa kecilku ditahun 1984 kali hajeling ini masih layak tuk mandi dan mencuci pakaian, tapi melihat kondisi sekarang, sepertinya aku enggan tuk berenang seperti dulu. Waktu dulu ketika aku masih kecil, setelah bermain bola bersama teman-temanku, aku langsung membuka baju lalu berjalan keatas saluran air dipinggir jembatan, lalu aku dan teman-temanku melompat kebawah sambil berteriak riang terjun kekali, berenanglah kami ke tepi untuk mengulang hal yang sama, ketika aku berenang menepi kepinggir, tiba-tiba saja tampak sepasang kaki bersepatu yang sangat aku kenal, perlahan aku mendongakan kepalaku, dan ternyata ada bapakku dihadapanku dengan wajah kesalnya yang khas, tapi untungnya dia hanya menyuruh aku pulang dan tidak melakukan hal tersebut lagi. aku sih ngerti, karena dia khawatir kepadaku soalnya aku ini anak bungsu, hehehe... kok jadi curhat gini. oke kita lanjutkan masalah perempuan basah dan anak kecil yang mandi dikali penuh limbah, gak usah dibayangkan, itu memang real. dan jangan dicoba, beneran deh, itu kali limbahnya macam-macam. Sekitar tahun1989, aku naik becak ingin ketempat saudaraku dijembatan gantung, dan saat itulah aku melihat pertama kali limbah-limbah itu bercampur aduk dengan air kali tersebut, airnya berbusa, busa-busa yang gak jelas asal usulnya. pusing juga melihatnya.tapi ya sudahlah, mungkin Negeriku sedang dibangun, jadi harus begini prosesnya (fikirku saat itu). Tapi begitu Mall-mall mulai memasuki tanah Betawi tercinta ini pada tahun 1990, kok malah semakin tebal limbah-limbah itu mencemari kali, dulu warna airnya coklat tanah jernih, sekarang sudah kehitam-hitaman terkena limbah-limbah gak jelas pengelolaannya. Perlahan teman-teman kecilku yang sebagian tinggal dikolong jembatan berpindah, sebagian kembali kekampung halaman dan sebagiannya mengontrak rumah sepetak pada tahun 1991. Pada tahun 1995 aku ingat ketika selesai bermain bola, aku dan teman-teman tiduran ditanah kering berpasir dipinggir kali sambil menatap matahari senja yang tenggelam disisi gedung-gedung tinggi yang baru dibangun. pada tahun 13-mei-1998 gedung itu dibakar habis, dan pada akhirnya aku bisa melihat matahari terbenam saat itu. Namun tak lama berselang, matahari terbenam terhalang lagi oleh gedung tinggi yang baru dibangun. "ahk, sudahlah!" gumamku, semakin kesini semakin mudah para investor bangun membangun gedung, sebagian untuk keuntungan pribadi dan sebagian untuk keuntungan golongan. namun pemandangan indah itupun hilang sudah. Zaman sekarang lebih parah, pinggir kali dibeton permanen hingga serapan airpun terganggu, terpaksa aku dan keluarga serta tetangga-tetangga disekitar kampung ngebor tanah lebih dalam lagi untuk dapat air bersih. ya, sudahlah, tadinya mau ngomongin soal perempuan berambut basah dan anak kecil yang mandi dikali penuh limbah, kok jadi aku yang curhat tentang kehidupan yang kulalui ya, hehehehe... sudah malam, besok kerja, esok inshaaAllah jika diberi kesempatan kita teruskan lagi cerita tentang perempuan berambut basah dan anak kecil yang riang gembira mandi dikali penuh limbah.
Jakarta oh Jakarta

Begitu ya, Mas? Kalo saya pendatang, jadi nggak tau gimana dulunya kondisi kali di Jakarta :)
ReplyDeleteYo'a mas Ryan hehe
Delete