Skip to main content

*tidak bisa lagi*



ketika kita tersadar cinta telah menghunus hampir menembus jantung yang lunak...
tetap hatimu tenang, dan tataplah dalam dibalik wajah-wajahnya nan ceria...
hingga kamu menemukan wajah-wajahnya yang sunyi, dan hati yang dipenuhi sesak belukar dan berduri...
telusuri ruang hidupnya yang terbungkus menyisakan satu celah...
lalu urungkan dirimu tuk tak membalas dan tak menyakitinya...
karena belum tentu dia berniat tuk menyakiti...

kesalahan manusia hanya satu...
mudah sekali menerima hawa nafsu...
hingga bungkamlah kebaikan menjadi ego yang meledak-ledak saling berseteru...
bayang-bayang sucipun menjadi saru...

pandanglah ilalang nan indah pada lapang diwaktu senja...
terlihat sangat indah mempesona...
tak terpikirkah jika dibalik indah sang senja penuh sekali dengan duka...?
duka ketika mentari turun pergi menghilang diujung barat jingga...
dan gelappun datang bersama rembulan tertutup awan tipis hingga redup redam pancaran cahaya...

ketika kamu menemukan sebutir bening diendapan kelopak mata nan anggun miliknya...
sesungguhnya dia telah membungkam nurani...
membiarkan ego mengendalikan jiwa dan raganya...
sedangkan hatinya menyimpan berjuta sepi dan sepi...

yang sangat disayangkan kamu tidak bisa lagi memeluknya...
tak bisa berbagi akan tangisnya...
tak bisa menutup semua lukanya...
tak bisa menghampiri dan menghapus semua rasa dukanya...

bukannya enggan...!
tetapi ketahuilah, jika sesuatu rasa yang berawal dari ketulusan maka rasa itu akan hinggap dihati setiap manusia hingga akhir hayatnya...
namun jarak kini bagai terpatah dua dimensi...
cukuplah merenungkan diri...
merenungkan segala yang telah terjadi...

namun didepan kita masih ada waktu...
waktu tuk dilewati dengan penuh kebaikan...
dimana sang surya telah meninggalkan bulan tuk bersinar dimalam hari...
bulan yang sangat indah dari Sang Maha Indah...

biarkanlah kehidupan berjalan sesuai waktu...
cinta tidak selamanya menghunus hati disucinya kalbu...
perlahan duri itu kan tanggal seiring waktu yang hembuskan angin...

bunga indahpun berseri... 
menghampirilah dirimu bagai lebah yang baik terhadap sang bunga yang mekar...
lebah yang menginginkan keindahan diluar dan rasa manisnya madu didalam...
buatlah merona panah-panah cinta menghempaskan kisah yang telah berlalu...
panah yang menyentuh lembut penuh kasih sayang tuk masa depanmu...
hingga akhirnya mautpun menghampiri.


Comments

Popular posts from this blog

Sepeda Kukayuh

Sepeda itu kukayuh... Kesana kemari tak peduli waktu... Dari keadaan bening hingga sore tetap tak terlihat lusuh... Hanya debu yg menempel hiasi membekas bahwa sepeda itu satu harian kukayuh... Duduk sore hari dalam lelah kupandangi sepeda hadiah kenaikan kelas dari ayah dan Ibu... Dan mataharipun tersenyum senang melihat riang kalbuku... Tersenyumku menyentuh stang sepeda BMX yg terkenal pada saat itu... Lalu aku mendudukinya dan mengayuh kembali pedal sepeda dan berlalu dari tempat itu menuju rumahku... Mataharipun tersipu haru memandangku... Lalu ia tenggelam dan waktupun terus mengalir seperti air hingga kuambil picture sepeda kesayangan keponakanku... # masakecilituindah :)

Opini diArcapada

Ketika melangkah dijalan setapak menuju puncak gunung, coba renungkan beberapa ego yang ada dibenak kita, mungkin ada beberapa fikiran yang sangat mengganggu, entah hati yang berkata-kata," akan sampaikah kita diatas sana dengan selamat?"... coba renungkan ketika hati kita berbicara tentang yang ada difikiran kita,"ya,ampun... sang surya sebentar lagi tiba, kita masih ditanah berpasir Mahameru, menapak satu langkah terperosok tiga langkah... !" .. sangat menyedihkan,bahkan sanubari yang terdalampun akan membayangkan orang-orang yang kita cintai dibawah sana, air mata sudah tak terbendung, tangan sudah mencengkeram rumput yang menancap ke tanah tuk bertahan, kaki sudah tertumpu dipinggiran tebing yang dibawahnya jurang nan terjal... fikiran dan hati yang memang sejalan ketika semua ego terbuang saat kita benar-benar sendiri menghadapi kesulitan langkah yang dibawahnya jurang penuh batu terjal, diantara tangisan bermakna maka disaat itu pula keyakinan tuk bangki...

Dalam sebuah perjalanan di Gunung Papandayan Ba'da kelar SMA 1997' silam. :). mengenang Alm.Darwin

*Ext.Pagi Dinihari jam 02:30 Dinihari di Terminal Garut. kami berlima turun dari Bis yang mengantar kami dari terminal Kampung Rambutan dari sejak sore hingga sampai ke Terminal Garut pagi-pagi buta Pukul 02:30, aku Erick Maulana, my best friends Darwin (alm), Aphet Trujillo, Keke, dan sikampret Aco Macho, turun dengan wajah masih setengah sadar karena mengantuk. ketika didepan terminal seperti biasa kami mengecek alat-alat bawaan, Aco Macho tampak celingukan lalu memandang Keke. Aco Macho: " (memandang Keke) Ke, gitar udeh dibawa belum?" Keke: " Oh iye, Co, gw lupa beneran dehc!" Aco Macho: "(sambil nyengir cengengesan) si beg* :D , gitar pake acara ketinggalan diBis, (sambil berdiri memandang Bis yang baru diparkir) ayo, Ke... kita ambil ke bis! Erick Maulana: " (nyengir) tau luh, Ke... gitar abang gw tuh, gw minjem sama die ampe matanya melotot, tapi akhirnye dipinjemin juga tuh gitar, ambil cepetan, Ke, Co!" Aphet Tru...