ketika kita tersadar cinta telah menghunus hampir menembus jantung yang lunak...
tetap hatimu tenang, dan tataplah dalam dibalik wajah-wajahnya nan ceria...
hingga kamu menemukan wajah-wajahnya yang sunyi, dan hati yang dipenuhi sesak belukar dan berduri...
telusuri ruang hidupnya yang terbungkus menyisakan satu celah...
lalu urungkan dirimu tuk tak membalas dan tak menyakitinya...
karena belum tentu dia berniat tuk menyakiti...
kesalahan manusia hanya satu...
mudah sekali menerima hawa nafsu...
hingga bungkamlah kebaikan menjadi ego yang meledak-ledak saling berseteru...
bayang-bayang sucipun menjadi saru...
pandanglah ilalang nan indah pada lapang diwaktu senja...
terlihat sangat indah mempesona...
tak terpikirkah jika dibalik indah sang senja penuh sekali dengan duka...?
duka ketika mentari turun pergi menghilang diujung barat jingga...
dan gelappun datang bersama rembulan tertutup awan tipis hingga redup redam pancaran cahaya...
ketika kamu menemukan sebutir bening diendapan kelopak mata nan anggun miliknya...
sesungguhnya dia telah membungkam nurani...
membiarkan ego mengendalikan jiwa dan raganya...
sedangkan hatinya menyimpan berjuta sepi dan sepi...
yang sangat disayangkan kamu tidak bisa lagi memeluknya...
tak bisa berbagi akan tangisnya...
tak bisa menutup semua lukanya...
tak bisa menghampiri dan menghapus semua rasa dukanya...
bukannya enggan...!
tetapi ketahuilah, jika sesuatu rasa yang berawal dari ketulusan maka rasa itu akan hinggap dihati setiap manusia hingga akhir hayatnya...
namun jarak kini bagai terpatah dua dimensi...
cukuplah merenungkan diri...
merenungkan segala yang telah terjadi...
namun didepan kita masih ada waktu...
waktu tuk dilewati dengan penuh kebaikan...
dimana sang surya telah meninggalkan bulan tuk bersinar dimalam hari...
bulan yang sangat indah dari Sang Maha Indah...
biarkanlah kehidupan berjalan sesuai waktu...
cinta tidak selamanya menghunus hati disucinya kalbu...
perlahan duri itu kan tanggal seiring waktu yang hembuskan angin...
bunga indahpun berseri...
menghampirilah dirimu bagai lebah yang baik terhadap sang bunga yang mekar...
lebah yang menginginkan keindahan diluar dan rasa manisnya madu didalam...
buatlah merona panah-panah cinta menghempaskan kisah yang telah berlalu...
panah yang menyentuh lembut penuh kasih sayang tuk masa depanmu...
hingga akhirnya mautpun menghampiri.
Comments
Post a Comment