ketika hati sedang bermain...
nada-nada sendu tak terdengar...
hanya lantunan keras membuat jantung berdetak dengan irama yang semakin tak karuan...
lantas yang membuat sunyi hanyalah ego ditambah ego lalu keduanya diam dalam tembang peraduan gigi graham gemeretak menahan dendam dan amarah...
cinta-cinta terhenti lalu dihempaskan begitu saja kedalam lubang yang dalam yang diatasnya terkunci...
dan tertidurlah kenangan-kenangan nan indah dibenamkan asa yang pupus menghitam dilembah curam dan terjal...
dua orang insan yang dulu saling mencinta...
berdiri diujung akhir jalan setapak yang dibawahnya jurang berisikan lahar nan panas...
keduanya tampak diam dengan perasaan yang dipendam lara...
ingin mengenyahkan sembilu dihati namun sudah terlanjut menembus pinggir jantung hingga hampir terbelah dua tuk jatuh ketanah...
lalu air hujanpun turun dari langit...
kedua insan tersadar tersentuh lembut cairan-cairan sejuk yang merambah keseluruh tubuh hingga luruh...
walau sudah tiada kecocokan diantaranya...
namun tetap yang menentukan adalah kesanggupan didiri serta keteguhan hati kedua insan yang tengah patah hati...
kedua insan menundukkan kepalanya merenungkan segala yang telah terjadi...
tenang-tenanglah hati dan jiwa mereka...
dengan bungkam sejenak keduanya menatap kedepan langit nan cerah...
mengadahkan kepala keatas langit yang masih mendung menitikkan cairan berkah-Nya...
tanpa saling menatap, lalu keduanya mulai melangkah diarah yang berbeda...
mencoba menyusun rapih puing-puing sisa asa yang berserakan dibumi cipta-Nya...
dan perpisahan itu kadang menjadikan lebih baik dan kadang sebaliknya...
maka Tegarlah!
sungguh jalan hidup hanya 'DIA' yang Maha Menentukan...
sedangkan kita hanya menjalankan takdir-Nya...
Rick"22 Desember 2018"
nada-nada sendu tak terdengar...
hanya lantunan keras membuat jantung berdetak dengan irama yang semakin tak karuan...
lantas yang membuat sunyi hanyalah ego ditambah ego lalu keduanya diam dalam tembang peraduan gigi graham gemeretak menahan dendam dan amarah...
cinta-cinta terhenti lalu dihempaskan begitu saja kedalam lubang yang dalam yang diatasnya terkunci...
dan tertidurlah kenangan-kenangan nan indah dibenamkan asa yang pupus menghitam dilembah curam dan terjal...
dua orang insan yang dulu saling mencinta...
berdiri diujung akhir jalan setapak yang dibawahnya jurang berisikan lahar nan panas...
keduanya tampak diam dengan perasaan yang dipendam lara...
ingin mengenyahkan sembilu dihati namun sudah terlanjut menembus pinggir jantung hingga hampir terbelah dua tuk jatuh ketanah...
lalu air hujanpun turun dari langit...
kedua insan tersadar tersentuh lembut cairan-cairan sejuk yang merambah keseluruh tubuh hingga luruh...
walau sudah tiada kecocokan diantaranya...
namun tetap yang menentukan adalah kesanggupan didiri serta keteguhan hati kedua insan yang tengah patah hati...
kedua insan menundukkan kepalanya merenungkan segala yang telah terjadi...
tenang-tenanglah hati dan jiwa mereka...
dengan bungkam sejenak keduanya menatap kedepan langit nan cerah...
mengadahkan kepala keatas langit yang masih mendung menitikkan cairan berkah-Nya...
tanpa saling menatap, lalu keduanya mulai melangkah diarah yang berbeda...
mencoba menyusun rapih puing-puing sisa asa yang berserakan dibumi cipta-Nya...
dan perpisahan itu kadang menjadikan lebih baik dan kadang sebaliknya...
maka Tegarlah!
sungguh jalan hidup hanya 'DIA' yang Maha Menentukan...
sedangkan kita hanya menjalankan takdir-Nya...
Rick"22 Desember 2018"
Koq sy sedih ya baca puisinya... Biarpun berpisah adlh jln terbaik..
ReplyDeleteiya
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete