Skip to main content

*rintik*

rintik hujan yang menggelitik...
malam yang benar-benar sunyi...
sebuah malam yang benar-benar buatku sepi...
bulanpun tertutup awan mendung...
hanya desiran angin menerpa mencoba menutupi kekurangan malam saat ini...




keraguanku sudah terjawab...
mencintai seseorang tak semudah mencintai diri sendiri...
bahkan diri sendiri terkadang enggan tuk dicintai...
lalu antara mencintai diri sendiri dan mencintai seseorang adalah ego yang berbeda...
sangat sulit menata dua ego yang berlawanan agar saling mencinta...

lupakan saja...
tinggalkanlah tanpa dendam...
surya saja pergi ketika sang bulan menampakkan wajahnya...
air sungai yang bertemu dimuara dengan air laut harus bercampur walau terjangan ombak hinggapi dasar hati dan menyentuh sifat asli didiri...
buaikanlah keindahan agar keduanya melupakan seteru tanpa ada ujungnya...

suara gemericik air hujan diatas loteng mulai terdengar deras...
namun yang sangat disayangkan bahwa air mata itu tidak bersuara...
dia (air mata) mengalir secara spontan dalam redup kesedihan...
jika air mata bisa mengatakan sesuatu, maka tataplah mata-mata indah yang mengeluarkan air mata...
disitu kita akan benar-benar dipaksa untuk mencintai...

tiada kesedihan yang abadi didunia ini...
dan tiada kesenangan yang bertahan lama didunia ini...
setiap kesedihan adalah keindahan...
dan disetiap kesenangan adalah kesedihan...
keduanya saling bertautan...

wahai Sang Maha Pemilik Wajah yang Indah...
sentuhkanlah keindahan-Mu pada jiwa-jiwa dan jasad yang terpisah resah...
siramilah dengan wangi-Mu kepada hati-hati agar lunak dengan embun hingga hati mereka yang kering menjadi basah...
karena Engkau-lah Yang Maha Menciptakan Keindahan dan menepis segala Kesengsaraan terparah...
mulutkupun bungkam menghentikan langkah disebuah pintu tuk kembali pulang semoga dalam segala berkah... Aamiin


Comments

  1. Dalem banget mas puisinya... Meskipun sy susah mengerti puisi tapi bait"nya ngena banget di hati... Ni kunbal saya ya... Btw banyak bener blognya yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... iya, saya juga kaget bisa nulis banyak gitu.. bawel ditulisan tapi diam dimulut... :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sepeda Kukayuh

Sepeda itu kukayuh... Kesana kemari tak peduli waktu... Dari keadaan bening hingga sore tetap tak terlihat lusuh... Hanya debu yg menempel hiasi membekas bahwa sepeda itu satu harian kukayuh... Duduk sore hari dalam lelah kupandangi sepeda hadiah kenaikan kelas dari ayah dan Ibu... Dan mataharipun tersenyum senang melihat riang kalbuku... Tersenyumku menyentuh stang sepeda BMX yg terkenal pada saat itu... Lalu aku mendudukinya dan mengayuh kembali pedal sepeda dan berlalu dari tempat itu menuju rumahku... Mataharipun tersipu haru memandangku... Lalu ia tenggelam dan waktupun terus mengalir seperti air hingga kuambil picture sepeda kesayangan keponakanku... # masakecilituindah :)

Opini diArcapada

Ketika melangkah dijalan setapak menuju puncak gunung, coba renungkan beberapa ego yang ada dibenak kita, mungkin ada beberapa fikiran yang sangat mengganggu, entah hati yang berkata-kata," akan sampaikah kita diatas sana dengan selamat?"... coba renungkan ketika hati kita berbicara tentang yang ada difikiran kita,"ya,ampun... sang surya sebentar lagi tiba, kita masih ditanah berpasir Mahameru, menapak satu langkah terperosok tiga langkah... !" .. sangat menyedihkan,bahkan sanubari yang terdalampun akan membayangkan orang-orang yang kita cintai dibawah sana, air mata sudah tak terbendung, tangan sudah mencengkeram rumput yang menancap ke tanah tuk bertahan, kaki sudah tertumpu dipinggiran tebing yang dibawahnya jurang nan terjal... fikiran dan hati yang memang sejalan ketika semua ego terbuang saat kita benar-benar sendiri menghadapi kesulitan langkah yang dibawahnya jurang penuh batu terjal, diantara tangisan bermakna maka disaat itu pula keyakinan tuk bangki...

Dalam sebuah perjalanan di Gunung Papandayan Ba'da kelar SMA 1997' silam. :). mengenang Alm.Darwin

*Ext.Pagi Dinihari jam 02:30 Dinihari di Terminal Garut. kami berlima turun dari Bis yang mengantar kami dari terminal Kampung Rambutan dari sejak sore hingga sampai ke Terminal Garut pagi-pagi buta Pukul 02:30, aku Erick Maulana, my best friends Darwin (alm), Aphet Trujillo, Keke, dan sikampret Aco Macho, turun dengan wajah masih setengah sadar karena mengantuk. ketika didepan terminal seperti biasa kami mengecek alat-alat bawaan, Aco Macho tampak celingukan lalu memandang Keke. Aco Macho: " (memandang Keke) Ke, gitar udeh dibawa belum?" Keke: " Oh iye, Co, gw lupa beneran dehc!" Aco Macho: "(sambil nyengir cengengesan) si beg* :D , gitar pake acara ketinggalan diBis, (sambil berdiri memandang Bis yang baru diparkir) ayo, Ke... kita ambil ke bis! Erick Maulana: " (nyengir) tau luh, Ke... gitar abang gw tuh, gw minjem sama die ampe matanya melotot, tapi akhirnye dipinjemin juga tuh gitar, ambil cepetan, Ke, Co!" Aphet Tru...