Skip to main content

* ReLung *

wajah yang menyendiri terpaku pada satu titik pandang diujung batas langit dimana sang Surya tertutup kabut mendung... Bening air tertahan dari kedua kelopak mata indahnya... lalu hembusan angin sejuk mengusap wajah murung dibalik pesona anggun rupanya... 
Ketahuilah wahai wanita,ketegaran ego membuat diri selalu diterpa sunyi, seiring hening selalu terucap kata-kata hati yang membentur sepi,hingga enggan untuk berucap bait kata-kata yang menyayat relung lagi.

seorang pria tidaklah mudah dalam melakoni perannya sebagai seorang pria...terlalu banyak masalah...terlalu banyak menerpa kesedihan...bahkan jika tersentuh hasrat dan kemauannya, semakin seorang pria terbunuh dalam segala gundahnya walau ada kenikmatan didalamnya...

seorang pria bukan hanya sekedar tameng, dia juga akan menjadi kelembutan bagi cinta-cintanya pada yang dicintainya. 

Tapi begitulah pria, dia akan memainkan segala perannya secara otodidak, bisa membungkam rasa perih yang tertulis dihatinya yang terdalam, dia tidak diam, tapi juga enggan berkata-kata ketika melihat orang yang dicintainya terluka dan dilukai bahkan melukai.

kehidupan dalam bercinta memaksa kita untuk berperan dengan segala cara apapun untuk menjaga kisah cinta dan kebaikan yang akan diraihnya.

entah peran  berpura-pura, ataupun peran yang sesungguhnya, bahkan jika diharuskan terbunuh hatinya, maka terbunuhlah pria itu dalam sepinya, semuanya sesuai apa yang seharusnya wanita perankan untuk mengarungi segala kisah yang memang harus dihadapi.

aku melihat keindahan didepanku, itu adalah harapan semua lelaki yang pernah dicintai dan saat ini mencinta...begitu juga wanita, dia juga melihat keindahan didepannya yaitu sang lelaki dalam sebuah asa yang tak terbatas karena sangat mencintai yang terkasih...

jika suatu saat harus terhempas dari kisah itu, maka seharusnya juga keduanya mempersiapkan diri tuk sakit, dari yang terkecil, hingga bisa membesar, lalu bisa jatuh kedalam lubang terjal yang tak diinginkan cinta-cinta dikehidupan ini.

biarkan duri itu menancap, lalu lepaslah ketika sampai dipuncak kebahagiaan aku dan kamu!Rick'10-06-2019

Comments

  1. Lagi lagi puisinya sendu yaa.. Tp sy bs menghayati dan jg berasa ikut di alurnya... Nice postingannya mas..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sepeda Kukayuh

Sepeda itu kukayuh... Kesana kemari tak peduli waktu... Dari keadaan bening hingga sore tetap tak terlihat lusuh... Hanya debu yg menempel hiasi membekas bahwa sepeda itu satu harian kukayuh... Duduk sore hari dalam lelah kupandangi sepeda hadiah kenaikan kelas dari ayah dan Ibu... Dan mataharipun tersenyum senang melihat riang kalbuku... Tersenyumku menyentuh stang sepeda BMX yg terkenal pada saat itu... Lalu aku mendudukinya dan mengayuh kembali pedal sepeda dan berlalu dari tempat itu menuju rumahku... Mataharipun tersipu haru memandangku... Lalu ia tenggelam dan waktupun terus mengalir seperti air hingga kuambil picture sepeda kesayangan keponakanku... # masakecilituindah :)

Opini diArcapada

Ketika melangkah dijalan setapak menuju puncak gunung, coba renungkan beberapa ego yang ada dibenak kita, mungkin ada beberapa fikiran yang sangat mengganggu, entah hati yang berkata-kata," akan sampaikah kita diatas sana dengan selamat?"... coba renungkan ketika hati kita berbicara tentang yang ada difikiran kita,"ya,ampun... sang surya sebentar lagi tiba, kita masih ditanah berpasir Mahameru, menapak satu langkah terperosok tiga langkah... !" .. sangat menyedihkan,bahkan sanubari yang terdalampun akan membayangkan orang-orang yang kita cintai dibawah sana, air mata sudah tak terbendung, tangan sudah mencengkeram rumput yang menancap ke tanah tuk bertahan, kaki sudah tertumpu dipinggiran tebing yang dibawahnya jurang nan terjal... fikiran dan hati yang memang sejalan ketika semua ego terbuang saat kita benar-benar sendiri menghadapi kesulitan langkah yang dibawahnya jurang penuh batu terjal, diantara tangisan bermakna maka disaat itu pula keyakinan tuk bangki...

Dalam sebuah perjalanan di Gunung Papandayan Ba'da kelar SMA 1997' silam. :). mengenang Alm.Darwin

*Ext.Pagi Dinihari jam 02:30 Dinihari di Terminal Garut. kami berlima turun dari Bis yang mengantar kami dari terminal Kampung Rambutan dari sejak sore hingga sampai ke Terminal Garut pagi-pagi buta Pukul 02:30, aku Erick Maulana, my best friends Darwin (alm), Aphet Trujillo, Keke, dan sikampret Aco Macho, turun dengan wajah masih setengah sadar karena mengantuk. ketika didepan terminal seperti biasa kami mengecek alat-alat bawaan, Aco Macho tampak celingukan lalu memandang Keke. Aco Macho: " (memandang Keke) Ke, gitar udeh dibawa belum?" Keke: " Oh iye, Co, gw lupa beneran dehc!" Aco Macho: "(sambil nyengir cengengesan) si beg* :D , gitar pake acara ketinggalan diBis, (sambil berdiri memandang Bis yang baru diparkir) ayo, Ke... kita ambil ke bis! Erick Maulana: " (nyengir) tau luh, Ke... gitar abang gw tuh, gw minjem sama die ampe matanya melotot, tapi akhirnye dipinjemin juga tuh gitar, ambil cepetan, Ke, Co!" Aphet Tru...