Skip to main content

#situasi yang konflik


dimana Berlian lebih berharga dari pada nyawa...
diri sendiri tiada arti demi mencapai kepuasan nafsu...
begitu mudahnya peperangan mengambil nyawa seseorang dengan selongsong senapan ataupun granat, mortir serta rudal bahkan nuklir mengambil jiwa-jiwa yang sedih hanya karena kepuasan hawa nafsu tuk menguasai sesuatu yang tak abadi!


apa pernah kita terfikirkan tuk sejenak merenungi ketidak pastian tujuan kita kedepannya?...
terkadang rasa takut menghampiri dalam dilema kita tuk mencapai sesuatu...
entah didalamnya berisikan dosa dan dosa, ataupun kita hanya bisa berfikir bahwa jalan kita masih panjang dan masih bisa memperbaiki kesalahan sekarang!...

itupun jika kita benar-benar mengetahui takdir, namun apakah benar-benar kita mengetahui bahwa usia kita bisa mencapai esok pagi?

ketika berlian lebih berharga dari pada nyawa, lalu kamu mengorbankan sekian banyak orang demi satu tujuan, dan apa akhirnya ketika kamu bisa melihat berlian itu tanpa kamu bisa nikmati disaat kamu mengetahui bahwa dirimu terkena peluru yang membuatmu dalam sekaratul maut, apa yang terakhir yang seharusnya kamu sebutkan tuk dibawa dikehidupan abadi selanjutnya?...

embun yang jernih, kristal cair yang indah yang turun dari langit di ujung daun dan kelopak bunga nan wangi...
bersyukurlah akan segala karunia-Nya... sangat indah... #MashaALLAH

Comments

Popular posts from this blog

Sepeda Kukayuh

Sepeda itu kukayuh... Kesana kemari tak peduli waktu... Dari keadaan bening hingga sore tetap tak terlihat lusuh... Hanya debu yg menempel hiasi membekas bahwa sepeda itu satu harian kukayuh... Duduk sore hari dalam lelah kupandangi sepeda hadiah kenaikan kelas dari ayah dan Ibu... Dan mataharipun tersenyum senang melihat riang kalbuku... Tersenyumku menyentuh stang sepeda BMX yg terkenal pada saat itu... Lalu aku mendudukinya dan mengayuh kembali pedal sepeda dan berlalu dari tempat itu menuju rumahku... Mataharipun tersipu haru memandangku... Lalu ia tenggelam dan waktupun terus mengalir seperti air hingga kuambil picture sepeda kesayangan keponakanku... # masakecilituindah :)

Opini diArcapada

Ketika melangkah dijalan setapak menuju puncak gunung, coba renungkan beberapa ego yang ada dibenak kita, mungkin ada beberapa fikiran yang sangat mengganggu, entah hati yang berkata-kata," akan sampaikah kita diatas sana dengan selamat?"... coba renungkan ketika hati kita berbicara tentang yang ada difikiran kita,"ya,ampun... sang surya sebentar lagi tiba, kita masih ditanah berpasir Mahameru, menapak satu langkah terperosok tiga langkah... !" .. sangat menyedihkan,bahkan sanubari yang terdalampun akan membayangkan orang-orang yang kita cintai dibawah sana, air mata sudah tak terbendung, tangan sudah mencengkeram rumput yang menancap ke tanah tuk bertahan, kaki sudah tertumpu dipinggiran tebing yang dibawahnya jurang nan terjal... fikiran dan hati yang memang sejalan ketika semua ego terbuang saat kita benar-benar sendiri menghadapi kesulitan langkah yang dibawahnya jurang penuh batu terjal, diantara tangisan bermakna maka disaat itu pula keyakinan tuk bangki...

Dalam sebuah perjalanan di Gunung Papandayan Ba'da kelar SMA 1997' silam. :). mengenang Alm.Darwin

*Ext.Pagi Dinihari jam 02:30 Dinihari di Terminal Garut. kami berlima turun dari Bis yang mengantar kami dari terminal Kampung Rambutan dari sejak sore hingga sampai ke Terminal Garut pagi-pagi buta Pukul 02:30, aku Erick Maulana, my best friends Darwin (alm), Aphet Trujillo, Keke, dan sikampret Aco Macho, turun dengan wajah masih setengah sadar karena mengantuk. ketika didepan terminal seperti biasa kami mengecek alat-alat bawaan, Aco Macho tampak celingukan lalu memandang Keke. Aco Macho: " (memandang Keke) Ke, gitar udeh dibawa belum?" Keke: " Oh iye, Co, gw lupa beneran dehc!" Aco Macho: "(sambil nyengir cengengesan) si beg* :D , gitar pake acara ketinggalan diBis, (sambil berdiri memandang Bis yang baru diparkir) ayo, Ke... kita ambil ke bis! Erick Maulana: " (nyengir) tau luh, Ke... gitar abang gw tuh, gw minjem sama die ampe matanya melotot, tapi akhirnye dipinjemin juga tuh gitar, ambil cepetan, Ke, Co!" Aphet Tru...