Skip to main content

"Mungkin"

mungkin malam ini bisa jadi malam yang terakhir kita melihat indahnya bulan...

dan aku tak tahu bagaimana takdir bergerak...

mungkin malam ini bisa jadi malam yang terakhir mata memandang bulan yang mulai redup tertutup awan yang memerah karena biasnya...

dan aku benar benar tak bisa sembunyi dari takdir-Nya yang bahkan seorang manusia sempurna pilihan-Nya pun tidak tahu menahu tentang takdir-Nya dan menuruti semua atas kehendak-Nya...

mungkin malam ini bisa jadi malam terakhir kita makan dan minum bersama, bercanda gurau, bercinta dalam halal, bercerita tentang indahnya kisah yang kita lalui, menekur diri ketika kisah sedih terucap dari bibir yang tak sengaja harus terucap...

dan aku benar benar tak tahu kemana arah takdir itu akan menemui ujung yang ditulis-Nya...

Laa Haula Wala Quwata Ila BiLLah



ketika langkah berjalan seiring waktu...

hati manusia selalu diliputi rasa bimbang...

ada kesedihan, ada ambisi, ada suka, bahkan ada yang tiada dimana pengungkapan itu hanyalah antara kita dan Sang Khaliq...


kita berbicara dari hati yang terdalam...

pengungkapan rasa yang tulus...

hati lapang karena siap menerima cacian dan makian, dan bersedih ketika menerima pujian dan didiri kita merasakan bangga dan lupa...

tiada daya dan kuasa ketika apa yang kita upayakan harus pupus karena sifat kita yang lalai...


aku mendengar seorang pujangga bersyair dalam sepi...

menuturkan segala ungkapan isi hati...

tanpa melihat penonton disekitarnya yang memuja hasil syair buah tangannya...

dan penyair itu semakin tampakkan kesedihannya karena dia tak ingin dipuja...

dan penyair menitikkan bening hingga air kristal itu menyentuh tanah Bumi yang seakan mendengar semua kesedihan, karena apa yang telah dilakukan semua manusia dalam segala hal yang merusak tatanan jiwa dan raga beserta hatinya...


wahai Sang Maha Cinta...

lunturkan segala dosa hamba-Mu ini karena sifat manusia hamba yang membuat hamba celaka...

wahai Sang Maha Pencipta...

kami mengharapkan cinta-Mu yang tiada bandingnya didunia ini yang semuanya berada dalam genggamanmu...

termasuk jiwa dan raga hamba yang rapuh...

kami mengharapkan kasih-Mu hingga jiwa dan raga kami kembali kepada-Mu dalam keadaan suci...

tiada yang tak mungkin semua atas kehendak-Mu, Ya, Allahu, Ya, Rabb...

"Astaghfirullah"

Comments

Popular posts from this blog

* Pengalaman itu bermakna untuk diri sendiri *

               Saat itu tahun 1996 dimana diriku masih SMA, sebenarnya tiada niat sedikitpun dihatiku untuk ikut Ekstrakulikuler apapun saat itu, pada suatu kesempatan akhirnya aku iseng ikut teman-teman Ekstrakulikuler Pecinta Alam di SMA yang melakukan Dikdas (pendidikan dasar) di Gunung Gede-Pangrango Bogor Jawa-Barat Via Cibodas, waktu itu segala ijin tidak begitu seribet sekarang, dan berangkatlah pasukan pecinta alam sekolah sekitar 45 orang mendaki keatas Gunung Gede - Pangrango. kami berangkat setelah Sholat Maghrib sekitar jam setengah 7 malam. Asli itu pertama kali aku hiking dan dikasih kepercayaan sebagai seorang leader pada satu kelompok yang terdiri dari 7 kelompok, kalau gak salah seingatku waktu itu dijadikan leader dikelompok 4, wah... berat dan ribet juga jadi leader, disitu kita diharuskan bertanggung jawab kepada group (kelompok) yang kita pimpin. Singkat cerita akhirnya aku dan teman-teman kelompok 4 mulai menapakkan kaki...

Sepeda Kukayuh

Sepeda itu kukayuh... Kesana kemari tak peduli waktu... Dari keadaan bening hingga sore tetap tak terlihat lusuh... Hanya debu yg menempel hiasi membekas bahwa sepeda itu satu harian kukayuh... Duduk sore hari dalam lelah kupandangi sepeda hadiah kenaikan kelas dari ayah dan Ibu... Dan mataharipun tersenyum senang melihat riang kalbuku... Tersenyumku menyentuh stang sepeda BMX yg terkenal pada saat itu... Lalu aku mendudukinya dan mengayuh kembali pedal sepeda dan berlalu dari tempat itu menuju rumahku... Mataharipun tersipu haru memandangku... Lalu ia tenggelam dan waktupun terus mengalir seperti air hingga kuambil picture sepeda kesayangan keponakanku... # masakecilituindah :)

Opini diArcapada

Ketika melangkah dijalan setapak menuju puncak gunung, coba renungkan beberapa ego yang ada dibenak kita, mungkin ada beberapa fikiran yang sangat mengganggu, entah hati yang berkata-kata," akan sampaikah kita diatas sana dengan selamat?"... coba renungkan ketika hati kita berbicara tentang yang ada difikiran kita,"ya,ampun... sang surya sebentar lagi tiba, kita masih ditanah berpasir Mahameru, menapak satu langkah terperosok tiga langkah... !" .. sangat menyedihkan,bahkan sanubari yang terdalampun akan membayangkan orang-orang yang kita cintai dibawah sana, air mata sudah tak terbendung, tangan sudah mencengkeram rumput yang menancap ke tanah tuk bertahan, kaki sudah tertumpu dipinggiran tebing yang dibawahnya jurang nan terjal... fikiran dan hati yang memang sejalan ketika semua ego terbuang saat kita benar-benar sendiri menghadapi kesulitan langkah yang dibawahnya jurang penuh batu terjal, diantara tangisan bermakna maka disaat itu pula keyakinan tuk bangki...